SEJARAH
PENDIDIKAN MASA KLASIK
1.
PENDAHULUAN
Yang
dimaksud dengan masa klasik pada periodesasi sejarah Indonesia adalah masa
berkembangnya pengaruh Hindu-Budha di Nusantara yang berasal dari India, masuk
sekitar abad ke 4 sampai akhir periode kekuasaan Majapahit abad ke 15 masehi. Bahasa
tulis pada periode tersebut mengalami perubahan dan perkembangan. Prasasti,
kitab dan sarana tulis ketika itu ditulisi dengan hurup Palawa, Prenegari,
Melayu Kuno, Jawa Kuno. Bahasa yang dipakai juga berlainan dari masa kemasa. Pendidikan
masa klasik di Indonesia diawali dengan terjadinya hubungan perdagangan antara
orang-orang Hindu dengan orang Indonesia. Terutama hubungan dagang dengan ketua
adat, pada masa itu ketua adat merupakan orang yang
sangat dihormati mempunyai kesaktian dan kaya raya, karena menerima banyak
bingkisan dari masyarakat. Ketua adat mendengar tentang kebudayaan Hindu dari
pedagang India, terutama tentang kedudukan dan kemewahan raja-raja India. Ia
mencari dukungan diplomatik dengan raja India maka didatangkanlah para brahmana
untuk mengatur sebuah Negara dan menobatkan ketua adat menjadi seorang raja
yang berkuasa serupa dengan raja India. Dari keraton masuklah kebudayaan Hindu
itu ke dalam masyarakat Indonesia dan mempengaruhi kebudayaan kuno.
2.
MASA HINDU
Pada zaman purba masyarakat Indonesia adalah masyarakat
gotong-royong. Tidak ada manusia lapisan tinggi. Masyarakat tidak
berlapis-lapis setelah kedatangan orang Hindu
masyarakat itu berubah menjadi masyarakat feodal maka timbullah dua
golongan manusia
1.
Golongan
yang di jamin
2.
Golongan
yang menjamin
Di India terdapat 4 Kasta yakni:
1. Kasta Brahmana (Kasta yang dijamin)
2. Kasta Ksatria.
3. Kasta Waisa (Kasta yang menjamin)
4. Kasta Syudra
Pembagian
golongan tersebut tidak tegas terjadi di Indonesia, tetapi meskipun demikian
garis
antara
yang dijamin dan yang menjamin itu ada
·
Rakyat dan pegawai-pegawainya
(dijamin)
·
Rakyat (yang menjamin)
Rakyat dan pegawai-pegawainya yang
dijamin sudah jauh tingkatannya dari masyarakat biasa dan sudah menguasai
daerah yang luas, rakyatpun milik raja, perubahan terjadi raja membentuk
masyarakat feodal yang disusun oleh kaum Brahmana. Ia menyatakan, bahwa raja
sebagai wakil dari Syiwa.
3.
PAHAM HINDU
Susunan
masyarakat feodal di Indonesia itu berdasarkan paham Hindu. Paham ini tidak
disebabkan karena kepercayaan yang sama
terhadap dewa, tetapi karena kasta. Dewa –dewa hindu sangat banyak diantara
dewa-dewa ada tiga dewa yang paling
penting yaitu:
1. Dewa Brahma
2. Dewa Wisynu
3. Dewa Syiwa
Yang berkembang di Indonesia adalah
agama Syiwa
Penganut agama Hindu beranggapan :
Manusia
hidup dalam samsara (perpindahan jiwa yang tak berkeputusan). Ia tidak terlepas
dari keduniawian. Manusia tetap hidup di dunia ini apabila dia mati tetap akan
dilahirkan kembali. Ia mengalami proses lahir- mati- lahir- mati dan
seterusnya. Hukum karma menyatakan bahwa tiap kebaikan akan berakibat kebaikan,
tetapi juga tiap kejahatan akan mengakibatkan kejahatan pula. Untuk keluar dari
roda berputar yang disebut samsara jalan yang utama adalah bertapa. Setelah
mencapai Moksya manusia dapat keluar dari lahir-mati dan dapat bersatu dengan
Syiwa.
4.
PAHAM BUDDHA
Bagi Buddha hidup merupakan penderitaan semata-mata. Ia
berusaha mencari jawab atas pertanyaan tentang arti dan maksud hidup, yang
banyak mengandung duka dari pada suka. serupa dengan paham Hindu Buddhapun
mengakui adanya samsara. Tetapi untuk memutuskan samsara tidak dengan jalan
bertapa melainkan dengan delapan usaha:
1.
Kepercayaan
2.
Pertimbangan
3.
Perkataan
4.
Perbuatan
5.
Penghidupan
6.
Usaha
7.
Samadi
8.
Persatuan
fikiran yang baik-baik
Paham Buddha mempersatukan
seluruh manusia, tidak mengenal pembagian kasta. Kalau raja
dalam paham hindu
jadi wakil syiwa sekarang ia jadi Bodhisattwa (calon Buddha)
Antara abad ke 4 – 3
sebelum masehi ajaran Buddha terpecah menjadi dua aliran
1.
Hinayana
(kendaraan kecil)
Seorang harus mencapai nirwana atas
tenaga dan kekuasaan sendiri.
2.
Mahayana
(kendaraan besar)
Seorang dapat mencapai nirwana
dengan pertolongan Bodhisattwa.
5.
KEADAAN PENDIDIKANNYA
Yang mula-mula jadi guru ialah kaum Brahmana, mereka
menggantikan para Empu di Indonesia. Brahmana menjadi manusia istimewa, Para
empu segera belajar kepada para Brahmana. Baru setelah itu Empu-empu menjadi
guru dan mengganti kedudukan Brahmana.
Ada
2 macam guru:
1. Guru Keraton :
Golongan yang dijamin
2. Guru Pertapa : Menginsafi tugasnya
Murid-murid
guru keraton bukan anaknya atau anak rakyat jelata. Tetapi anak raja-raja
bangsawan. Guru Pertapa lebih berjiwa kerakyatan, mereka ingin mendekati rakyat
dan tidak mendekati keraton, bahkan
menjauhinya atau bersembunyi di hutan-hutan, supaya tidak berselisih dengan
kaum raja. Cita-citanya ialah mengangkat derajat rakyat jelata. Dan kalau hal
ini diketahui raja mereka akan dimasukan ke dalam penjara. Sistim pendidikan
disesuaikan dengan cara India, yaitu sistim guru-kula. Sistim ini sama dengan pendidikan asrama.
Murid-murid tinggal serumah dengan guru. Istri guru dianggap sebagai ibu, murid
harus melayani gurunya. Karena guru dianggap orang sakti selamanya harus
dihormati. Ia tidak memiliki penghasilan tetap, tetapi sewaktu-waktu ia
menerima pemberian suka rela dari orang tua murid-murid. Pengajaran agama dari para pendeta ke
masyarakat dan kalangan bangsawan sudah tentu menggunakan sebuah sistem yang
terstruktur. Tulisan Pallawa dan Sansekerta yang digunakan dalam tiap prasasti
pun, tentu ada sistem pengajaran yang digunakan sehingga masyarakat
pribumi mampu menguasainya. Menurut
Agus Aris Munandar (1990)
dalamhttp://syaifmipa.blogspot.com/2009/12/sejarah-pendidikan-di-indonesia.html, pendidikan
di era klasik ini disebut dengan Karsyan.
Karsyan
ini menunjuk pada tempat dimana orang yang mengundurkan diri dari hingar bingar
masyarakat untuk mendekatkan dirinya pada dewa tertinggi. Di dalam sistem
ini, dikenal dua istilah yakni Patapan dan Mandala. Patapan adalah kegiatan
seseorang yang menjauhi masyarakat dan berdiam ditempat-tempat yang menyendiri.
Dalam patapan ini, seseorang akan bertapa untuk merenung dan mendekatkan
dirinya kepada dewa. Dengan kegiatan seperti itu, dia bias lebih memahami
ajaran agama melalui kebatinannya. Ciri utama patapan ini adalah tempat yang
tidak berupa bangunan. Patapan bisa di goa, pinggir sungai, atas bukit, dan tempat-tempat
sunyi lainnya. Sedangkan mandala merupakan tempat pengajaran agama yang
sifatnya lebih kolektif dan terstruktur. Mandala ini seperti tempat atau
bangunan yang biasanya terletak di pinggir kota raja. Baik pendeta atau murid
sama-sama diam dan belajar disatu tempat, sehingga terbentuklah nuansa
kekeluargaan antar guru dan murid. Selain
itu, mandala ini pula dijadikan sebagai simbol kesaktian bagi para raja.
Para raja menganggap penting mandala-mandala ini karena dianggap sebagai sumber
kekuatan mereka.