Sabtu, 18 Mei 2013

SEJARAH PENDIDIKAN MASA KLASIK


SEJARAH PENDIDIKAN MASA KLASIK

1.      PENDAHULUAN
Yang dimaksud dengan masa klasik pada periodesasi sejarah Indonesia adalah masa berkembangnya pengaruh Hindu-Budha di Nusantara yang berasal dari India, masuk sekitar abad ke 4 sampai akhir periode kekuasaan Majapahit abad ke 15 masehi. Bahasa tulis pada periode tersebut mengalami perubahan dan perkembangan. Prasasti, kitab dan sarana tulis ketika itu ditulisi dengan hurup Palawa, Prenegari, Melayu Kuno, Jawa Kuno. Bahasa yang dipakai juga berlainan dari masa kemasa. Pendidikan masa klasik di Indonesia diawali dengan terjadinya hubungan perdagangan antara orang-orang Hindu dengan orang Indonesia. Terutama hubungan dagang dengan ketua adat,   pada masa itu ketua adat merupakan orang yang sangat dihormati mempunyai kesaktian dan kaya raya, karena menerima banyak bingkisan dari masyarakat. Ketua adat mendengar tentang kebudayaan Hindu dari pedagang India, terutama tentang kedudukan dan kemewahan raja-raja India. Ia mencari dukungan diplomatik dengan raja India maka didatangkanlah para brahmana untuk mengatur sebuah Negara dan menobatkan ketua adat menjadi seorang raja yang berkuasa serupa dengan raja India. Dari keraton masuklah kebudayaan Hindu itu ke dalam masyarakat Indonesia dan mempengaruhi kebudayaan kuno.
2.              MASA  HINDU
Pada zaman purba masyarakat Indonesia adalah masyarakat gotong-royong. Tidak ada manusia lapisan tinggi. Masyarakat tidak berlapis-lapis setelah kedatangan orang Hindu  masyarakat itu berubah menjadi masyarakat feodal maka timbullah dua golongan manusia
1.      Golongan yang di jamin
2.      Golongan yang menjamin
Di India terdapat 4 Kasta yakni:
1.      Kasta Brahmana  (Kasta yang dijamin)
2.      Kasta Ksatria.
3.      Kasta Waisa         (Kasta yang menjamin)
4.      Kasta Syudra
Pembagian golongan tersebut tidak tegas terjadi di Indonesia, tetapi meskipun demikian garis
antara yang dijamin dan yang menjamin itu ada
·         Rakyat dan pegawai-pegawainya (dijamin)

·         Rakyat (yang menjamin)
Rakyat dan pegawai-pegawainya yang dijamin sudah jauh tingkatannya dari masyarakat biasa dan sudah menguasai daerah yang luas, rakyatpun milik raja, perubahan terjadi raja membentuk masyarakat feodal yang disusun oleh kaum Brahmana. Ia menyatakan, bahwa raja sebagai wakil dari Syiwa.










3.      PAHAM HINDU
      Susunan masyarakat feodal di Indonesia itu berdasarkan paham Hindu. Paham ini tidak disebabkan  karena kepercayaan yang sama terhadap dewa, tetapi karena kasta. Dewa –dewa hindu sangat banyak diantara dewa-dewa  ada tiga dewa yang paling penting yaitu:
1.      Dewa Brahma
2.      Dewa Wisynu
3.      Dewa Syiwa
Yang berkembang di Indonesia adalah agama Syiwa
Penganut agama Hindu beranggapan :
Manusia hidup dalam samsara (perpindahan jiwa yang tak berkeputusan). Ia tidak terlepas dari keduniawian. Manusia tetap hidup di dunia ini apabila dia mati tetap akan dilahirkan kembali. Ia mengalami proses lahir- mati- lahir- mati dan seterusnya. Hukum karma menyatakan bahwa tiap kebaikan akan berakibat kebaikan, tetapi juga tiap kejahatan akan mengakibatkan kejahatan pula. Untuk keluar dari roda berputar yang disebut samsara jalan yang utama adalah bertapa. Setelah mencapai Moksya manusia dapat keluar dari lahir-mati dan dapat bersatu dengan Syiwa.








4.      PAHAM BUDDHA
Bagi Buddha hidup merupakan penderitaan semata-mata. Ia berusaha mencari jawab atas pertanyaan tentang arti dan maksud hidup, yang banyak mengandung duka dari pada suka. serupa dengan paham Hindu Buddhapun mengakui adanya samsara. Tetapi untuk memutuskan samsara tidak dengan jalan bertapa melainkan dengan delapan usaha:
1.      Kepercayaan
2.      Pertimbangan
3.      Perkataan
4.      Perbuatan
5.      Penghidupan
6.      Usaha
7.      Samadi
8.      Persatuan fikiran yang baik-baik
   Paham Buddha mempersatukan seluruh manusia, tidak mengenal pembagian kasta. Kalau raja 
   dalam paham hindu jadi wakil syiwa sekarang ia jadi Bodhisattwa (calon Buddha)
   Antara abad ke 4 – 3 sebelum masehi ajaran Buddha terpecah menjadi dua aliran
1.      Hinayana (kendaraan kecil)
Seorang harus mencapai nirwana atas tenaga dan kekuasaan sendiri.
2.      Mahayana (kendaraan besar)
Seorang dapat mencapai nirwana dengan pertolongan Bodhisattwa.


5.   KEADAAN PENDIDIKANNYA
Yang mula-mula jadi guru ialah kaum Brahmana, mereka menggantikan para Empu di Indonesia. Brahmana menjadi manusia istimewa, Para empu segera belajar kepada para Brahmana. Baru setelah itu Empu-empu menjadi guru dan mengganti kedudukan Brahmana.
Ada 2 macam guru:
1.      Guru Keraton               : Golongan yang dijamin
2.      Guru Pertapa                : Menginsafi tugasnya
            Murid-murid guru keraton bukan anaknya atau anak rakyat jelata. Tetapi anak raja-raja bangsawan. Guru Pertapa lebih berjiwa kerakyatan, mereka ingin mendekati rakyat dan tidak mendekati keraton,  bahkan menjauhinya atau bersembunyi di hutan-hutan, supaya tidak berselisih dengan kaum raja. Cita-citanya ialah mengangkat derajat rakyat jelata. Dan kalau hal ini diketahui raja mereka akan dimasukan ke dalam penjara. Sistim pendidikan disesuaikan dengan cara India, yaitu sistim guru-kula. Sistim ini sama dengan pendidikan asrama. Murid-murid tinggal serumah dengan guru. Istri guru dianggap sebagai ibu, murid harus melayani gurunya. Karena guru dianggap orang sakti selamanya harus dihormati. Ia tidak memiliki penghasilan tetap, tetapi sewaktu-waktu ia menerima pemberian suka rela dari orang tua murid-murid.   Pengajaran agama dari para pendeta ke masyarakat dan kalangan bangsawan sudah tentu menggunakan sebuah sistem yang terstruktur. Tulisan Pallawa dan Sansekerta yang digunakan dalam tiap prasasti pun, tentu ada sistem pengajaran yang digunakan sehingga masyarakat pribumi mampu menguasainya.   Menurut Agus Aris Munandar (1990) dalamhttp://syaifmipa.blogspot.com/2009/12/sejarah-pendidikan-di-indonesia.html, pendidikan di era klasik ini disebut dengan Karsyan.
Karsyan ini menunjuk pada tempat dimana orang yang mengundurkan diri dari hingar bingar masyarakat untuk mendekatkan dirinya pada dewa tertinggi. Di dalam sistem ini, dikenal dua istilah yakni Patapan dan Mandala. Patapan adalah kegiatan seseorang yang menjauhi masyarakat dan berdiam ditempat-tempat yang menyendiri. Dalam patapan ini, seseorang akan bertapa untuk merenung dan mendekatkan dirinya kepada dewa. Dengan kegiatan seperti itu, dia bias lebih memahami ajaran agama melalui kebatinannya. Ciri utama patapan ini adalah tempat yang tidak berupa bangunan. Patapan bisa di goa, pinggir sungai, atas bukit, dan tempat-tempat sunyi lainnya. Sedangkan mandala merupakan tempat pengajaran agama yang sifatnya lebih kolektif dan terstruktur. Mandala ini seperti tempat atau bangunan yang biasanya terletak di pinggir kota raja. Baik pendeta atau murid sama-sama diam dan belajar disatu tempat, sehingga terbentuklah nuansa kekeluargaan antar guru dan murid. Selain  itu, mandala ini pula dijadikan sebagai simbol kesaktian bagi para raja. Para raja menganggap penting mandala-mandala ini karena dianggap sebagai sumber kekuatan mereka.